Laporan
Praktikum Lapangan: Hidrologi Hutan
ANALISIS DEBIT AIR SUNGAI, LAJU INFILTRASIDAN IDENTIFIKASIKARAKTERISTIK VEGETASIDI SEKITAR DAERAH ALIRAN SUNGAI PENA
Oleh
Hartati Balasteng
04341411043
Kelompok
5
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS KHAIRUN
TERNATE
2016
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Praktikum :
Analisis Debit Air, Laju Infiltrasi, dan Identifikasi
Karakteristik Vegetasi di Sekitar DAS Pena
Kelompok :V(lima)
Program Studi :
Kehutanan
Fakultas :
Pertanian
Laporan praktikum ini merupakan salah satu syarat
untuk melengkapi hasil praktikum dan untuk pemberian nilai dari mata kuliah
yang bersangkutan, terhitung :
Tanggal : 3 Januari
Tahun : 2016
Menyetujui,
Dosen
Pengampuh
Fahdlan DA K. Hamdja, SP.,M.Si
KATA PENGANTAR
Segala puji
hanya kepunyaan ALLAH SWT dan hanya dengan izin dan kuasa-Nya, maka penulisan laporan
praktikium yang berjudul“Analisis
Debit Air Sungai, Laju Infiltrasidan IdentifikasiKarakteristik
VegetasiDi Sekitar Daerah Aliran Sungai Pena” dapat terselesaikan.
Laporan ini merupakan tugas mata kuliah “Hidrologi”.
Laporan
ini merupakan inovasi pembelajaran untuk memahami secara mendalam mengenai
berbagai macam Siklus DAS dan
karaktersistik vegetasi di areal air pena
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan
ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan
saran yang sifatnya membangun demi untuk kesempurnaan laporan ini. Akhirnya
kami mengucapkan terima kasih dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
rekan-rekan sekalian
Ternate, 03 Januari 2016
Hartati
Balasteng
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN
PENGESAHAN.................................................................................... ii
KATA
PENGANTAR................................................................................................. iii
DAFTAR
ISI............................................................................................................... iv
DAFTAR
TABEL........................................................................................................ vi
I.
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang......................................................................................... 1
1.2
Tujuan Praktikum..................................................................................... 1
1.3
Manfaat Praktikum................................................................................... 2
II.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Air Pena.................................................................................................... 3
2.2
Debit Air.................................................................................................. 4
2.3
Laju Infiltrasi............................................................................................ 4
2.4
Identifikasi Vegetasi................................................................................ 5
III. METODE PRAKTIKUM
3.1Tempat
dan Waktu.................................................................................... 6
3.2
Alat dan Bahan........................................................................................ 6
3.3
Metode Praktikum.................................................................................... 6
3.4
Prosedur Kerja.......................................................................................... 6
3.5
Variabel Pengamatan................................................................................ 7
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil......................................................................................................... 8
4.2
Pembahasan.............................................................................................. 14
V.
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan............................................................................................... 16
5.2
SARAN.................................................................................................... 16
DAFTAR
PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
a. Nama-Nama
Kelompok......................................................................................... 17
b. Layout
.................................................................................................................. 18
c. Perhitungan............................................................................................................ 19
d. Dokumentasi.......................................................................................................... 21
e Kartu
Asistensi
Praktikum...............................................................................22
DAFTAR
TABEL
Tabel Teks Halaman
1. Hasil
Pengukuran Debit Air........................................................... ............8
2. Hasil
Laju Infiltrasi........................................................................ ...........10
3. Hasil
Jumlah Vegetasi.................................................................... ...........10
4. Hasil
vegetasi tingkat pohon......................................................... ...........12
I.
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Kebutuhan manusia akan air sangatlah
besar. Jika kita melihat dari segi penggunaan, maka air tidak pernah lepas dari
segala aspek kehidupan manusia.Mulai dari hal kecil, seperti air minum untuk
melepas dahaga hingga kincir air yang dimanfaatkan sebagai penghasil energi
listrik.Kualitas air yang bagus ditentukan oleh pH air tersebut. Bila pH air
berkisar 7 maka kualitas air tersebut bagus dan air itu belum terkontaminasi
senyawa-senyawa yang mengandung logam berat yang dapat menyebabkan air tidak
layak lagi untuk dipakai atau dipergunakan oleh manusia atau organieme lain
karena menyebabkan kematian.
Perairan umum adalah bagian
permukaan bumi yang secara permanen atau berkala digenangi oleh air, baik air
tawar, air payau maupun air laut, mulai dari garis pasang surut terendah ke
arah daratan dan badan air tersebut terbentuk secara alami ataupun buatan. Perairan umum tersebut diantaranya
adalah sungai, danau, waduk, rawa, goba, genangan air lainnya (telaga,
kolong-kolong dan legokan). Beberapa faktor
tersedianya air antara lain curah hujan, kelembaban, penguapan, angin, suhu dan
udara.
Debit air adalah
volume air yang mengalir melalui suatu penampang melintang pada suatu titik
tertentu (sungai/saluran/mata air) per satuan waktu, pada umumnya dinyatakan
dalam m³/s. Pengukuran debit air sangat dipengaruhi oleh kecepatan arus air
Infiltrasi
merupakan proses masuknya air karena vertikal kedalaman tanah melaluli
permukaan tanah. Kecepatan infiltrasi tersebut dinyatakan dengan sejumlah air
yang masuk ke dalam tanah melalui permukaan tanah per satuan waktu (jam) per
satuan luas permukaan.
Vegetasi
merupakan bagian hidup yang tersusun dari tumbuhan yang menempati suatu ekosistem.Hubungannya
dengan kepentingan praktis, menyangkut sumberdaya air di atas laha,.Wisler dan Brater
(1959) mendefinisikan hirologi sebagai ilmu yang mempelajari proses-proses yang
mempengaruhi pengurangan (depletion) dan penambahan (replenishment) sumber-sumber
air di bumi.Hidrologi
adalah ilmu yang mempelajari air dengan segala bentuknya (cair, padat, gas)
pada, dalam, dan diatas permukaan tanah.Hirologi Hutan adalah merupakan suatu
ilmu fenomena yang berkaitan dengan air yang dipengaruhi oleh penutupan hutan.hidrologi terapan
dengan lingkup operasionalnya adalah daerah aliran sungai (DAS) terutama yang
bervegetasi hutan atau yang dapat berfungsi sebagai vegetasi hutan sertadaerah
yang dipengaruhi oleh kawasan tersebut.DAS adalah suatu wilayah daratan yang
secara topografik dibatasi oleh punggung-punggung gunung yang menampung dan
menyimpan air hujan untuk kemudian menyalurkannya ke laut melalui sungai utama
1.2
Tujuan Dan Manfaat Praktikum
Tujuan dari
praktikum ini yaitu untuk mengetahui jumlah air yang dapat digunakan oleh
manusia, untuk pengembangan pertanian terutama daerah basah, sebagai kawasan
ekowisata, dan mengetahui vegetasi yang ada di sekitar DAS Pena serta
menghitung kerapatan pohon di sekitar DAS tersebut dan manfaatnya adalah kami
dapat mengetahui bagaimana menghitung debit air sungai, melihat laju infiltrasi
sekitar DAS Pena, dan mengidentifikasi vegetasi yang ada di sekitar DAS Pena.Sebagai
sumber informasi dan sumber refenrensi
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Kondisi Wilayah Tidore Kepulauan
Wilayah Kota Tidore Kepulawaan Meliputi sebagian daratan pulau halmahera pada
bagian barat dan gugus pulau tidore yang secara astronomis berada antara 0°47’20’LU–
000’12’’LS dan 127018’15’’–127049’20’’BT.
Berbatasaan dengan 5 kabupaten/kota,yakni kota ternate, kabupaten halmahera
barat, kabupaten halmahera timur, kabupaten halmahera tengah dan kabupaten
halmahera selatan. Dengan luas wilayah ±2.793,686 km2 yang terbagi
atas daratan ±1.680,296 km2 (60,15%) dan laut ±1.113,391 km2
(39,85%) dengan panjang garis pantai ±219,75 km.
2.2 Kondisi Wilayah Praktikum
Kecematan Oba
Kelurahan Payahe merupakan kelurahan yang berbatasan dengan sebelah barat
berbatasan dengan Desa Kosa, setelah utara dengan perbukitan, sebelah timur
dengan perbukitan, dan sebelah selatan berbatasan dengan laut. Di Kelurahan
Payahe terdapat salah satu sungai yang bernama air Pena. Air Pena terletak pada
lintang timur 127044’64’’ dan lintang utara 0020’48,5’’.
Air Pena dapat di gunakan untuk praktikum analisis debit air sungai, laju infiltrasi,
dan indentifikasi karakteristik vegetasi di sekitar air tersebut. Karena,
tempatnya bagus dan aman serta arusnya yang tidak terlalu deras dan kedalaman
sungainya kurang lebih 100 cm dan di sekitar air pena terdapat pula vegetasi
yang beragam serta tanaman budidaya.
2.3 Debit Air
Debit air adalah
jumlah air yanga mengalir dalam satuan volume per waktu.Debita adalah
satuanbesaran air yang keluar dari Daerah Aliran Sungai (DAS).Satuan debit yang
digunakan adalah meter kubik per detk (m3/s).Debit aliranadalah laju
liaran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu penampang melintang
sungai/ satuan waktu (Asdak,2002).
Pengukuran debit
air sungai menggunakan metode apung((floating
method).Caranya dengan menempatkan benda yang tidak dapat tenggelam di
permukaan aliran sungai untuk jarak tertentu dan mencatat waktu yang diperlukan
oleh benda apung tersebut bergerak dari satu titik pengamatan ke titik
pengamatan lain yang telah ditentukan. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya
debit air sungai adalah intensitas hujan , lamanya hujan , bentuk dan
kemiringan lereng, karakter geologi terutama jenis dan struktur tanah , keadaan
tumbuh-tumbuhan dan manusia (Muchtar,2007). Selain debit air dalam praktikum
ini membahas juga infiltrasi.
2.3 Laju Ilfitrasi
Infiltrasi
adalah proses meresapnya air dari permukaan tanah melalui pori-pori tanah.
Sedangkan kapasitas infiltrasi adalah laju infiltrasi maksimum air meresap ke
dalam tanah (Haridjaja, Murtilaksono dan Rachman, 1991).Besarnya daya
infiltrasi dinyatakan dalam mm/jam atau cm/jam.
Pengukuran laju
infiltrasi menggunakan infiltrometer. Infiltrometer merupakan suatu tabung baja silindris pendek, berdiameter
besar (atau suatu batas kedap air lainnya) yang mengitari suatu daerah dalam
tanah (Seyhan, 1990). Ukuran double ring infiltrometer adalah ring pegukur/ring
dalam umunya berdiameter 10-20 cm, sedangkanring bagian luar (ring penyangga/buffer
ring) berdiameter 50 cm(Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian,
2006). Caranya Double ring dimasukkan ke dalam tanah sampai sedalam separuh
tinggi alat, dengan kedudukan diusahakan tegak lurus serta tanah dalam silinder
dijaga jangan sampai rusak atau pecah lalu Permukaan
tanah didalam tabung diisi air. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju infiltrasi
antara lain:Permukaan tanah, Tekstur tanah, Struktur tanah, Total ruang pori
tanah, Cara pengelolaan lahan, Kepadatan tanah, Sifat serta jenis tanaman, bahan organik tanah dan kadar air tanah. Selain
debit air dan laju ilfiltrasi terdapat juga vegetasi yang yang mempengaruhi di
sekitar debit air dan laju infiltrasi. Di sekitar sungai pasti memiliki
tumbuhan atau pohon atau vegetasi untuk mengurangi erosi dan sebagai tempat
menyimpan air.
2.3 Identifikasi Vegetasi
Vegetasi
merupakan bagian hidup yang tersusun dari tumbuhan yang menempati suatu ekosistem.Struktur
dan komposisi vegetasi pada suatu wilayah dipengaruhi oleh komponen ekosistem
lainnya yang saling berinteraksi, sehingga vegetasi yang tumbuh secara alami
pada wilayah tersebut sesungguhnya merupakan pencerminan hasil interaksi
berbagai faktor lingkungan dan dapat mengalami perubahan drastis karena
pengaruh anthropogenik (Setiadi, 1984).
Kerapatan adalah jumlah individu suatu jenis tumbuhan dalam suatu luasan
tertentu, misalnya 100 individu/ha. Metode yang digunakan dalam identifikasi
vegetasi yaitu metode purposive sampling
dengan teknik Transek atau Kuarter.
Metode purposive sampling yaitu
teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Metode ini bisa diartikan sebagai suatu proses pengambilan
sampel dengan menentukan terlebih dahulu jumlah sampel yang hendak diambil,
kemudian pemilihan sampel dilakukan dengan berdasarkan tujuan-tujuan tertentu,
asalkan tidak menyimpang dari ciri-ciri sampel yang ditetapkan.yang bertujuan untuk mengetahui hubungan perubahan
vegetasi dan perubahan lingkungannya atau untuk mengetahui jenis vegetasi yang
ada di suatu lahan secara cepat.
III. METODE PRAKTIKUM
3.1Tempat dan Waktu
Praktikum
ini dilaksanakan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pena, Kelurahan Payahe,
Kecamatan Oba, Kabupaten Tidore Kepulauan dengan ketinggian tempat Lintang
Timur 127׀׀44׀׀64 dan
Lintang Utara 0׀׀20׀׀48׀׀.5. Praktikum ini berlansung tanggal 7-8 Novembar 2015 pada
pukul 07.00-Selesai WIT.
3.2
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum yaitu
Tali rafia, Meter Roll, Bola Pimpong,
Double ring atau infiltrometer, Parang, mistar,
Bambu atau patokan, Stopwatch,
Kamera Digital, dan alat tulis menulis sedangkanbahan yang digunakan dalam praktikum
adalah air sungai pena dan vegetasi yang
di areal
sekitar aliran sungai.
3.3 Metode Praktikum
Metode praktikum yang digunakan dalam menghitung
debit air yaitu metode apung dan metode yang digunakan dalam laju infiltrasi
adalah metode infiltrometer atau double ring.Sedangkan untuk mengidentifikasi
karakteristik vegetasi di sekitar areal DAS Pena menggunakan metode purposive sampling dengan teknik transek atau
kuartir.
3.4
Prosedur Kerja
1. Prosedur Kerja Debit Air
a) Menentukan tempat aliran sungai yang
tepat buat praktikum
b) Mengukur panjang sungai dengan 5
lintasan masing-masing 1m.
c) Mengukur jarak lintasan yang
sama masing-masing 5m.
d) Menentukan lebar pada tiap lintasan
dan catat.
e) Letakkan bola pimpong pada titik
awal dan lepaskan. Secara bersamaan memulai stopwatchnya dan menghitung waktu
yang ditempuh sampai pada titik akhir. Ulangi hal yang sama pada lintasan 2,3,4
dan 5
f) Setelah mengetahui waktu yang
ditempuh selanjutnya menghitung kecepatan air.
g) Setelah itu menghitung luas pe\nampang
h) Setelah mengetahui hasil luas dan
kecepatan. Selanjutnya menghitung debit air total hingga per tahun dan catat
hasil akhir dari praktikum tersebut.
2. Prosedur Kerja Laju Infiltrasi
a) Menentukan areal untuk praktikum.
b) Setelah mendapatkan areal pengamatan harus mencari tempat yang jauh dari
pohon atau akar-akar besar.
c) Setelah menemukan areal yang pas. Selanjutnya letakkan double ring
atau infiltrometer di atas permukaan tanah. Dan masukkan kedalam tanah sampai
separuh alat dan permukaan ring harus rata.
d) Setelah double ringnya pas, masukkan
air ke dalam ring tersebut sampai penuh, lalu letakkan mistar dalam ring,
kemudian menghidupkan stopwatch sampai 5 menit dan catat jumlah air yang
diserap.
e) Teruskan sampai memiliki nilai yang
sama sebanyak 3 kali secara berturut-turut.
3. Prosedur Kerja Vegetasi
a) Menentukan daerah atau areal yang akan dijadikan pengamatan
b) Membuat plot dengan ukuran 20x20 m.
setelah membuat plot 20x20 m, sebelum membuat plot 2x2m, 5x5m dan 10x10m. kita
harus melihat terlebih dahulu vegetasi di tingkat semai, pancang, tiang dan pohon
c) Setelah mengetahui vegetasi di
tingkat tersebut. Selanjutnya membuat plot 2x2m tingkat semai, 5x5m tingkat
pancang dan 10x10m tingkat tiang.
d) Kemudian hitung vegetasi yang ada di
tingkat semai, pancang, dan tiang. Tetapi, pada tingkat pohon mengukur jarak dari satu pohon ke pohon yang
lain, dan
e) Catat hasil dari pengamatan tersebut
3.5 Variabel Pengamatan
Menghitung debit air
sungai dengan menggunakan variabel pengamatan yaitu, luas penampang dan kecepatan. Pada laju infiltrasi
variabel yang di amatiadalah waktu dan kecepatan air diserap. Sedangkan mengidentifikasi
karakteristik variabel yang diamati adalah kerapatan dan jumlah vegetasi pada
tiap petak ukur atau plot.
IV. HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1Hasil
4.1. Hasil
Pengamatan Debit Air
Pengamatan debit air agar
dapat mengetahui adalah jumlah air yanga mengalir dalam
satuan volume per waktu. Dan seberpa
besar air yang berdapa pada daerah tersebut setiap hari hingga tahun. Untuk
dapat mengetahui seberapa besar satuan air yang mengalir dan seberapa besar air
terdapa pada daerah tersebut dapat di lihat pada tabel di bawa ini:
Tabel 1. Data Pengamatan Debit Air
No
|
Lintasan
|
P (m)
|
L
(m)
|
S (m)
|
t (menit)
|
A (m2)
|
V
(m/menit)
|
Q (m3/
menit)
|
1.
|
Q1
|
1
|
0,2
|
5
|
2,37
|
0,12
|
2,10
|
0,252
|
2.
|
Q2
|
1
|
0,12
|
5
|
1,22
|
0,072
|
4,09
|
0,295
|
3.
|
Q3
|
1
|
0,13
|
5
|
1,42
|
0,078
|
3,52
|
0,275
|
4.
|
Q4
|
1
|
0,17
|
5
|
2,16
|
0,102
|
2,31
|
0,236
|
5.
|
Q5
|
1
|
0,09
|
5
|
1,2
|
0,054
|
4,17
|
0,225
|
Sumber: Data
primer di olah,2015
Keterangan:
1.
P = Panjang A = Luas Penampang
2.
L = Lebar V =
Kecepatan
3.
S = Jarak Q =
Debit Air
4.
t = Waktu
Pengamatan pada tabel di atas menunjukan bahwa jumlah debit air ( Q ) yang paling cepat
terlihat tabel no 2 dengan jumlah 0,295
dan tidak beda jauh dengan tebel no 3
dengan jumlah debit air 0,275. Dan
jumlah debit air ( Q ) yang paling
lambat terdapat pada tabel no 5 0,225 namun tidak beda jauh dengan tabel no 4
dengan jumlah debit air 0,236.
4.2
Hasil Laju Infiltrasi
Infiltrasi adalah proses meresapnya air dari permukaan tanah melalui
pori-pori tanah dengan menghitung
laju infiltasi yang di perlu di perhatikan adalah berapa jam air yang menyerpa
tanah dengan waktu yang di tentukan dan jumlah air perliter sehingga hasil laju
infiltrasi dapat kita lihat dalam bentuk tabel seperti di bawa ini:
Tabel 2. Data Hasil Laju Infiltrasi
No.
|
Titik Pengamatan
|
Laju
Infiltrasi(cm/jam)
|
Waktu (menit)
|
Jumlah air (ltr)
|
Kriteria
|
1
|
Titik II pengamatan
|
0.2
|
5
|
4.32
|
Sangat Lambat
|
0.2
|
10
|
0.24
|
Sangat Lambat
|
||
0.2
0.2
|
15
20
|
0.24
0.24
|
Sangat Lambat
Sangat Lambat
|
Sumber: Data
primer di olah,2015
Pengamatan pada
tabel di atas menunjukan bahwa laju infltrasi
yang di lakukan pada praktikum di
Desa Payahe menunjkan proses penyerapan air yang masuk ke dalam tanah masi
lambat kerena di lihat dari tabel atas pada titik pengamatan lajun infiltrasi hanya
0,2 sedangkan waktu yang di perlukan 5 –20 menit jumlahair /liter 4.32 –0.24 di lihat dari kriteria masi sangat
lambat.
4.3
Hasil keragaman
Vegetasi tingkat Semai
Keragaman vegetasi
tingkat pancang di lihat dari jumlah vegetasi yang berada di dearah areal
tersebut dan vegetasi yang berda pada
tingkat tiang yang berdapa di daerah tersebut dapat di lihat pada tabel hasil
kergaman vegetasi tingkat panjang di bawa ini.
Tebel 3. Data
Hasil Keragaman Vegetasi Tingkat Semai
No.
|
Jenis Vegetasi
|
Jumlah Vegetasi
|
Kerapatan
|
Kriteria
|
|
1.
|
Pisang Hutan
|
8
|
3
|
Mulai
dari perkecambahan sampai tinggi tumbuhan < 1,5 m
|
|
2.
|
Nanas
|
3
|
0,5
|
Mulai
dari perkecambahan sampai tinggi tumbuhan < 1,5 m
|
|
3.
|
Pohon coklat
|
5
|
0,45
|
Mulai
dari perkecambahan sampai tinggi tumbuhan < 1,5 m
|
Sumber: Data Primer
diolah,2015
Vegetasi tingkat semai pada tabel di atas menu jukan
bahwa jenis vegetasi yang paling banyak di daerah areal air pene adalah pisang
hutan dengan jumlah vegetasi 8 sedangkan jumlah vegetasi yang paling sedikit di
daerah areal air pena adalah nanas denagn jumlah vegetasi 3.
4.4
Hasil Keragaman Vegetasi Tingkat panjang.
Keragaman
vegetasi tingkat pancang di lihat dari jumlah vegetasi yang berada di dearah
areal tersebut dan vegetasi yang berada
pada tingkat tiang yang terdapa di daerah tersebut dapat di lihat pada tabel
hasil keragaman vegetasi tingkat panjang di bawa ini
Tabel 4. Data Hasil
Keragaman Tingkat Panjang.
No.
|
Jenis Vegetasi
|
Jumlah Vegetasi
|
Kerapatan
|
Kriteria
|
1.
|
Pohon pala
|
2
|
0,52
|
Tingginya diantara 1,5 m dan
diameternya < 10cm.
|
2.
|
Pisang Hutan
|
4
|
0,02
|
Tingginya diantara 1,5 m dan
diameternya < 10cm.
|
3.
|
Pohon bambu
|
6
|
0,63
|
Tingginya diantara 1,5 m dan
diameternya < 10cm.
|
4.
|
Pohon coklat
|
1
|
0,02
|
Tingginya diantara 1,5 m dan diameternya
< 10cm.
|
Sumber:
Data primer diolah,2015
Vegetasi tingkat panjang
pada tabel di atas menu jukan bahwa jenis vegetasi yang paling banyak di daerah areal air pene
adalah pohon bambu dengan jumlah vegetasi 6
sedangkan jumlah vegetasi yang paling sedikit di dearah areal air pena
adalah pohon coklat denagn jumlah
vegetasi 1.
4.5
Hasil Kergaman Vegetasi Tingkat Tiang
Keragaman
vegetasi tingkat tiang di lihat dari jumlah vegetasi yang berada di dearah
areal tersebut dan vegetasi yang berda
pada tingkat tiang yang berdapa di daerah tersebut dapat di lihat pada tabel
hasil kergaman vegetasi tingkat tiang di bawa ini.
Tabel. 5 Data Hasil Kergaman Vagetasi Tingkat Tiang.
No.
|
Jenis Vegetasi
|
Jumlah Vegetasi
|
Kerapatan
|
Kriteria
|
1.
|
Pohon pala
|
2
|
0,03
|
Memiliki diameter batang < 50 cm.
|
2.
|
Kedondong
hutan
|
2
|
0,05
|
Memiliki diameter batang < 50 cm.
|
Sumber:
Data primer diolah,2015
Vegatasi
tingkat tiang pada tabel di atas menjukan bahwa jumlah vegetasi tingkat tiang
di areal air pena sanagt sedikit hal ini menunjukan bahwa jenis vegetasi
tingkat tiang sangat minim di bandingkan
jenis vegetasi tingkat semai dan panjang dapat di lihat pada tabel 3 dan 4.
4.6
Hasil Keragaman Vegetasi Pohon
Keragaman
tumbuhan dan berbagai macam jenis vegetasi pohon dapat di hitung dari jarak
antar pohon yang satu dengan pohon lainyan sehingga kita dapat mengetahui
seberapa banyak proses penyimpanan air di daerah tersebut dan hasil kergaman
vegetasi dapat di lihat seperti tabel di bawa ini.
Tabel. 6 Data Hasil
Keragaman Vegetasi Pohon
NO.
|
Jenis Vegetasi
|
Simbol
|
Jarak pohon
(m)
|
1
2
3
4
5 6 7
8
9
|
Pohon bambu
Pohon ficus
Pohon bambu
Coklat
Pohon kedondong
Pohon bambu
Pohon pala
Coklat
Pohon pisang
|
D1
D2
D3
D4
D5
D6
D7
D8
D9
|
3,90
3,90
2
2,30
4
4
5,20
2,05
6,12
|
Jumlah
33,74
|
|||
Sumber:
Data primer diolah,2015
Keragaman vegetasi pohon pada tebel di atas menunjukan
untuk mengetahui seberapa banyak air yang tersimpan dalam tanah di lakukan
dengan mengukur jarak pohon tersebut. Dan hasil pengukuran dari D1 sampai
dengan D9 dengan jarak pohon seperti pada data di atas 3,90 –6,12 dengan jumlah keseluruhan 33,74.
4.2Pembahasan
a.
Debit
Air
Hidrologi dikemukakan, debit
air sungai adalah, tinggi permukaan air sungai yang terukur oleh alat ukur
pemukaan air sungai. Pengukurannya dilakukan tiap hari, atau dengan pengertian
yang lain debit atau aliran sungai adalah laju aliran air (dalam bentuk volume
air) yang melewati suatu penampang melintang sungai per satuan waktu. Dalam
sistem satuan SI besarnya debit dinyatakan dalam satuan meter kubik per detik
(m3/dt).(Todd, D. K., 1980.)
Berdasarkan hasil dari menghitung debit
air menggunakan metode apung. Kami
dapat memperoleh hasilnya yaitu pada panjang yang sama yaitu 1m dengan jarak 5m
namun lebar yang berbeda-beda yaitu 0.2 m, 0.12 m, 0.13 m, 0.17 m, dan 0.09 m.
Ternyata, menghasilkan waktu yang di tempuh hingga sampai di ujung pun berbeda
yaitu 2.37 menit, 1.22 menit, 1.42 menit, 2.16 menit, dan 1.2 menit. Dan,
rata-rata waktu yang di tempuh lumayan cukup lama yaitu 1.67 menit karena
dasarnya yang berlumpuh dan berpasir kurang berbatu sehingga arusnya tidak
melaju deras. Dan dapat diperoleh jika bola pimpong diletakan pada panjang 1 m
dengan jarak yang sama 5 m, namun lebar dan waktu yang berbeda, menghasilkan
luas penampang dan kecepatan antar lintasan pun berbeda sehingga menghasilkan debit
air total yaitu 1.283 m3/menit. Dari debit air total dapat di
peroleh debit air hingga per tahun yaitu
20 ltr/jam,0.83 ltr/hari, 0.119 ltr/minggu, 0.03 ltr/bulan dan 0.003
ltr/tahun.Faktor- faktor menetu debit
air adalah Intensitas
hujan ,Pengundulan Hutan dan Pengalihan hutan menjadi lahan pertanian. ( Reilly, T. E., Goodman. A. S.)
b.
Laju
Infiltrasi
Infiltrasi ialah air hujan atau air irigasi yang
melalui permukaan tanah dan membasahi bagian tanah yang trlatif kering
merupakan salah satu proses alamiah dasar. Habitat tanaman darat mencakup zona
tanah basah yang bersiklus atau tetap (Marshall and
Holmes,
1988). Menurut Asdak, 2002, infiltrasi adalah proses aliran air (umumnya
berasal dari curah hujan) masuk ke dalam tanah. Dengan kata lain, infiltrasi
adalah aliran air masuk ke dalam tanah sebagai akibat dari gaya kapiler
(gerakan air ke arah lateral) dan gaya gravitasi (gerakan air ke arah
vertikal). Setelah lapisan tanah bagian atas jenuh, kelebihan air tersebut
mengalir ke tanah yang lebih dalam sebagai akibat gaya gravitasi bumi dan
dikenal sebagai proses perkolasi
Berdasarkan
hasil yang telah dilakukan di Payahe, untuk mengukur laju infiltrasi
menggunakan infiltrometer atau double
ring. Hasil dari menggunakan pengukuran infiltrometer
yaitu pada daerah pengamatan di tepi sungai laju infiltrasinya dari menit
pertama yaitu 5 menit sebesar 0,5 cm/jam dengan jumlah air 4,32 ltr dan dari
menit kedua sampai 5 menit keempat (15 menit) menghasilkan laju infiltrasi
sebesar 0,3 cm/jam dengan jumlah air 0,24 ltr, 0,24 ltr dan 0,24 ltr. Sehingga
tergolong kriteria cukup lambat karena lajunya hanya 0,3 cm/jam. Faktor yang
mempengaruhi sehingga laju infiltrasinya sangat lambat yaitu tekstur tanah dan
kerapatan tanah.Karena pertama tekstur tanah, pada daerah pengamatan tekstur
tanahnya itu terdapat akar-akar kecil dan teksturnya kasar sehingga air yang
diserap sangatlah sedikit. Dan faktor kedua yaitu kerapatan tanah karena pada
saat ingin memasukkan double ring
tanahnya sangat keras sehingga membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sampai
pada batas yang ditentukan dan itu juga menyebabkan air yang masuk dalam waktu 5
menit hanya menurun 0,3 cm/jam karena tanahnya terlalu rapat sehingga air yang
ada susah untuk masuk ke dalamnya.Bila hujan membasahi suatu permukaan
tanahyang kering, gaya kapiler yang kuatdiciptakan yang cenderung untuk menarik
airkedalam tanah dengan laju yang jenuh lebihtinggi dibandingkan lajuyang
dihasilkan darigaya grafitasi saja,meningkatkan air tanah ebabkanpengembangan
koloid danmengurangi ruangpori(Subagyo, 1990)
c.
Jumlah
Vegetasi dan Kerapatan Pohon
Pengembangan
prinsip pengukuran kerapatan tegakan perlu dimengerti dua istilah yaitu stok ( stocking) dan kerapatan tegakan.
Stocking adalah sebagai petunjuk jumlah pohon yang kurang subyektif
dibandingkan dengan jumlah yang diinginkan untuk mendapatkan hasil yang
terbaik, sedangkan kerapatan tegakan yaitu sebagai ukuran kuantitatif stok
pohon yang dinyatakan secara relatif sebagai koofisien, dengan mengambil jumlah
normal, luas bidang dasar atau volume unit, atau secara mutlak dalam istilah
jumlah pohon, luas bidang dasr total, atau volume setiap unit areal
(Ford-Robinson,1971). Kerapatan yang diperlukan dinyatakan dalam istilah
kuantitatif dan hendaknya menggambarkan pengukuran tegakan yang tidak
tergantung pada tujuan pengelolaan dan konsisten diseluruh tingkat perkembangan
tegakan.
Pengamatan diatas, dengan menggunakan metode purposive sampling dan teknik transek. Ternyata, pada tingkat semai
terdapat pisang hutan sebanyak 6 pohon memiliki nilai kerapatan 3, sedangkan ngaru sebanyak 4 pohon dengan
kerapatan 0,5dan salak sebanyak 1 dengan kerapatan 0,45. Pada tingkat pancang
yang memiliki nilai kerapatan tertinggi yaitu ngaru dengan nilai kerapatan 0,52 karena memiliki jumlah vegetasi sebanyak 2 sedangkan yang lain hanya memiliki nilai
kerapatan 0,02 karena hanya memiliki masing-masing 1 pohon yaitu pisang hutan,
durian dan coklat. Pada tingkat tiang
yang memiliki nilai kerapatan tertinggi
yaitu coklat dan pisang hutan dengan nilai 0,03 dan 0.05 dengan jumlah
masing-masing sebanyak 1 dan 3. Hal ini
menunjukan rata-rata tinggkat (Odum, 2002) menyatakan bahwa klas semai yang
berada dalam hamparan lahan memiliki tingkat dominasi tinggi maka akan
mempengaruhi tinggi kerapatan tannah (Bulle darthi)
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang
diambil dari praktikum ini yaitu:
1.
Perktikum bedit air
dapat di simpulkan bahwa jumlah air yang berda di daerah air pena sanagat minim
setiap tahun.
2.
Perktikum infiltrasi
di derah air penah dapat disimpulkan bahwa air yang masuk ke dalam tanah sangat
lambat.
3.
Prktikum vegetasi
dan kerapan pohon dapat disimpikan bahwa jumlah jenis vegetasi yang di derah
air penah yang paling banyak yaitu klas vegetasi pohon dan paling sedikit jenis
vegetasi pancang.
5.2 Saran
Saran dari
penulis untuk laporan ini adalah semoga laporan ini dapat berguna buat orang
lain dan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi. Dan semoga penulis bisa
melakukan praktikum di lain tempat yang lebih menyenangkan dan menambah
pengalaman serta pengetahuan baru.
DAFTAR PUSTAKA
Ranchman, I. A. 2012. Pedoman Pengamatan
Tanah di Lapang. Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate.Lephair.
Sakinah,nur.2013.Metode
Sampling dan Analisis Vegetasi. Dapat di akses http://khinablue.blogspot.co.id/2013/05/metode-sampling-dan-analisis-vegetasi.html. Tanggal
di akses 16 November 2015
Saputra,
irwan eka.2013.Laporan Infiltrasi. Dapat diakses http://irwanekasaputra27.blogspot.co.id/2013/06/laporan-infiltrasi.html.Tanggal
diakses 16 November 2015
Alaufa,muhammad.2015.Laporan Praktikum Dasar
Ilmu Tanah”Pengukuran Laju Infiltrasi” dapat di akses https://cobacobabuka.wordpress.com/2015/06/01/laporan-praktikum-dasar-ilmu-tanah-pengukuran-laju-infiltrasi/. Tanggal di akses 16 November 2015
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran
1. Nama-Nama Kelompok :
NPM
Ketua :M Fauzi rizal S.M :0434141133
Anggota :
1.
Nabila lohor :
0434411070
2.
Hartati balasteng : 04341411043
3.
Nur dalifa masud :04341411008
4.
Nurjana B.silia :04341411085
5.
Dani rahmady Amir :0434141146
6.
Muhammad eko ali :04341411xx
7.
Masri umasugi :04341411xx
8.
Arif saifudin :04341411065
9.
Syarul :04341411xx
10. Eldi Yunita :04341411xx
Lampiran 2. Layout Petak Ukur Vegetasi
Gambar
petak ukur vegetasi
10x10 m
|
5x5 m
|
2x2 m
|
20x20 m
|
Keterangan
: 20x20 m = Tingkat Pohon
10x10 m = Tingkat Tiang
5x5 m
= Tingkat Pancang
2x2 m
= Tingkat Semai
Lampiran 3. Illustrasi
Debit Air Pena
Gambar Sungai
1m 1m 1m 1m
1m
0.2 m 0.12 m0.13m 0.17m 0.09m
Keterangan : 1 m
= Panjang lintasan 1,2,3,4 dan 5
0.2
m = lebar lintasan 1
0.12
m = lebar lintasan 2
0.13
m = lebar lintasan 3
0.17
m = lebar lintasan 4
0.09
m = lebar lintasan 5
Lampiran
3. Menghitung Rumuas Debit Air, Infiltasi dan Kerapatan
Rumus
Hitungan Debit Air
Jumlah Total
|
1,283
1200
|
|||||||
Jumlah
Q(ltr/menit)
Jumlah Q(ltr/jam)Jumlah Q(ltr/hari) |
||||||||
20
|
||||||||
0,83
|
||||||||
Jumlah Q(ltr/minggu)
|
0,119
|
|||||||
Jumlah
Q(ltr/bulan)
|
0,03
|
|||||||
Jumlah
Q(ltr/tahun)
|
0,003
|
|||||||
b. Perhitungan
Rumus
Luas Penampang: Rumus
Kecepatan :
A
= P x L x FK V=s/t
A1
= P1 x L1 x FK V1
= 5m / 2.37 menit
A1
= 1m x 0.2m x 0.6 = 2.10 m/menit
= 0.12 m2
A2
= P2x l2 x
f.k V2
= 5m / 1.22 menit
= 1m x 0.12m x 0.6 = 4.09 m/menit
= 0.072 m2
A3
= P3xL3xf.k V3
= 5m / 1.42 menit
= 1m x 0.13m x 0.6 = 3.52 m/menit
= 0.078 m2
A4
= P4xL4xf.k V4
= 5m / 2.16 menit
= 1m x 0.17m x 0.6 = 2. 31 m/menit
= 0.102 m2
A5
= P5xL5xf.k V5
= 5m / 1.2 menit
= 1m x 0.09m x 0.6 = 4.17 m/menit
= 0.054 m2
Qtotal= (V1 x A1) + (V2 x A2) + (V3 x A3) + (V4 x A4)
+ (V5 x A5)
= (2.10m/menit x 0.12 m2) + (
4.09m/menit x 0.072m2) + (3.52m/menit x 0.078m2) +
( 2.31m/menit x
0.102m2) + (4.17m/menit x 0.054m2)
= (0.252 m3/menit) + (0. 295 m3/menit)
+ (0.275 m3/menit) + (0.236 m3/menit) +
(0.225 m3/menit)
=
1.283 m3/menit
=
1.200 m3/menit
= 1200 ltr/menit
=
20 ltr/jam
=
0.83ltr/hari
=0.119ltr/minggu
=
0.03ltr/bulan
=0,003ltr/tahun
5. Rumus Hitungan Kerapatan:
Kerapatan
= Luasan / (jarak rata-rata)2
Dimana jarak rata-rata= d1+d2+d3+….+dn
N
Kerapatan = 20 mx20 m Jarak rata-rata= 33,47
( 3,72m)2 9
= 400m2 Jarak rata-rata= 3,72 m
13,8384 m2 = 28,90
Lampiran 4. Dokumentasi
Gambar Debit Air
Gambar .1
Gambar.2
Gambar.3
Gambar Vegetasi
Gambar 1. Gamabar.2
Gamabar.3 Gamabar
4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar